Kamis, 28 April 2016

DAFTAR PEJUANG KEMERDEKAAN INDONESIA



PERJUANGAN SUKARNO HATTA DALAM MEMPERJUANGKAN KEMERDEKAAN
Soekarno adalah Presiden Indonesia pertama. Dia jugalah pahlawan bangsa, dan sang proklamator kemerdekaan Republik Indonesia. Soekarno adalah presiden yang berani melawan musuh yang dianggap bisa mengganggu kedaulatan Republik Indonesia. Bagaimanakah profil Soekarno dan bagaimanakah kisah hidupnya, berikut kami paparkan.
Kisah Hidup Soekarno
Soekarno yang biasa dipanggil Bung Karno ini lahir di Surabaya, 6 Juni 1901 dengan nama Koesno Sosrodihardjo. Saat kecil, Soekarno hanya tinggal beberapa tahun bersama orang tuanya di Blitar. Semasa SD hingga tamat ia tinggal di Surabaya. Ia melanjutkan sekolah di HBS (Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS itu, Soekarno telah menggembleng jiwa nasionalismenya. Selepas lulus HBS tahun 1920, pindah ke Bandung dan melanjut ke THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi ITB). Ia berhasil meraih gelar "Ir" pada 25 Mei 1926.
Pada 4 Juli 1927 Soekarno mendirikan PNI (Partai Nasional lndonesia) untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Akibatnya, Belanda, memasukkannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Dia dikategorikan sebagai tahanan yang berbahaya. Bung Karno muda begitu bersemangat memperjuangkan kemerdekaan. Namun sejak dipenjara komunikasi Bung Karno dengan rekan-rekan seperjuangannya nyaris putus.
Delapan bulan kemudian ia baru disidangkan. Dalam pembelaannya berjudul Indonesia Menggugat, beliau menunjukkan kemurtadan Belanda. Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan.
Setelah bebas pada tahun 1931, Soekarno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, beliau kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.
Setelah melalui perjuangan yang amat panjang, dan harus mengalami beberapa kali dipenjara dan diasingkan, akhirnya Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945. Ia pula yang merumuskan Pancasila menjadi dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Setelah Indonesia merdeka, Soekarno menjadi presiden pertama dan wakilnya adalah Bung Hatta. Soekarno adalah presiden yang mampu menyatukan nusantara. Bahkan ia bisa menghimpun bangsa-bangsa di Asia dan Afrika dalam konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.
Pemberontakan G-30-S/PKI melahirkan krisis politik hebat yang menyebabkan penolakan MPR atas pertanggungjawabannya. Soekarno pun mengirimkan surat Supersemar untuk mengamankan negara yang kacau. Namun nampaknya Supersemar dijadikan legitimasi untuk mengambil alih kekuasaan dan menyingkirkan Soekarno. MPR pun mengangkat Soeharto sebagai presiden. Keaslian Supersemar pun hingga saat ini masih misteri.
Pada tahun 21 Juni 1970 Soekarno meninggal dunia di RSPAD. Ia disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jatim di dekat makam ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Pemerintah menganugerahkannya sebagai "Pahlawan Proklamasi".

PERJUANGAN MOHAMMAD HATTA DALAM MEMPERJUANGKAN KEMERDEKAAN
Dr.(HC) Drs. H. Mohammad Hatta (lahir dengan nama Mohammad Athar, populer sebagai Bung Hatta; lahir di Fort de Kock (sekarang Bukittinggi, Sumatera Barat), Hindia Belanda, 12 Agustus 1902 – meninggal di Jakarta, 14 Maret 1980 pada umur 77 tahun) adalah pejuang, negarawan, ekonom, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Ia bersama Soekarno memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda sekaligus memproklamirkannya pada 17 Agustus 1945. Ia juga pernah menjabat sebagai Perdana Menteri dalam Kabinet Hatta I, Hatta II, dan RIS. Ia mundur dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956, karena berselisih dengan Presiden Soekarno. Hatta juga dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia.
Bandar udara internasional Jakarta, Bandar Udara Soekarno-Hatta, menggunakan namanya sebagai penghormatan terhadap jasa-jasanya. Selain diabadikan di Indonesia, nama Mohammad Hatta juga diabadikan di Belanda yaitu sebagai nama jalan di kawasan perumahan Zuiderpolder, Haarlem dengan nama Mohammed Hattastraat. Pada tahun 1980, ia meninggal dan dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta. Bung Hatta ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 23 Oktober 1986 melalui Keppres nomor 081/TK/1986/
Drs. Mohammad Hatta adalah tokoh proklamator kemerdekaan Indonesia. Beliau sudah aktif berjuang dalam gerakan kebangsaan sejak mahasiswa. Setelah Indonesia merdeka, Bung Hatta mendampingi Presiden Soekarno memimpin negara Republik Indonesia. Pada agresi militer II, beliau ditangkap oleh Belanda lalu diasingkan ke Pulau Bangka. Ia selalu tampil di berbagai perundingan dalam penyelesaian masalah pengakuan kedaulatan RI. Bung Hatta selalu berusaha memperbaiki ekonomi rakyat. Atas gagasan beliaulah di Indonesia didirikan koperasi. Pada 1 Desember 1956, Bung Hatta mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden RI.



PERJUANGAN LATIF HENDRANINGRAT DALAM MEMPERJUANGKAN KEMERDEKAAN
Latief Hendraningrat Pengibar Bendera Pusaka Sewaktu Proklamasi - lahir di Jakarta, 15 Februari 1911 – meninggal di Jakarta, 14 Maret 1983 pada umur 72 tahun) adalah seorang prajurit PETA berpangkat Sudanco pengerek bendera Sang Saka Merah Putih tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56.  Beliau mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Hukum. Saat menjadi mahasiswa itu ia sekaligus mengajar bahasa Inggris di beberapa sekolah menengah swasta, seperti yang dikelola oleh Muhammadiyah dan Perguruan Rakyat. Ia pernah dikirim oleh pemerintah Hindia Belanda ke World Fair) di New York, sebagai ketua rombongan tari. Dalam masa pendudukan Jepang ia giat dalam Pusat Latihan Pemuda (Seinen Kunrenshoo), kemudian menjadi anggota pasukan Pembela Tanah Air (Peta).
Dalam masa setelah Proklamasi Kemerdekaan, beliau terlibat dalam berbagai pertempuran. Kemudian menjabat komandan Komando Kota ketika Belanda menyerbu Yogyakarta (1948). Setelah berhasil keluar dari Yogyakarta yang sudah terkepung, beliau melakukan gerilya. Setelah penyerahan kedaulatan, beliau mula-mula ditugaskan di Markas Besar Angkatan Darat, kemudian ditunjuk sebagai atase militer Rl untuk Filipina (1952), lalu dipindahkan ke Washington hingga tahun 1956. Sekembalinya di Indonesia beliau ditugaskan memimpin Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SSKAD, yang kini menjadi Seskoad). Jabatannya setelah itu antara lain rektor IKIP Negeri Jakarta (1964-1965). Pada tahun 1967 Hendraningrat memasuki masa pensiun dengan pangkat brigadir jenderal. Sejak itu beliau menjadi seorang wiraswastawan dan aktif di Yayasan Perguruan Rakyat, organisasi Indonesia Muda dan ASITA (Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies).




PERJUANGAN LAKSAMANA MAEDA DALAM MEMPERJUANGKAN KEMERDEKAAN
Laksamana Muda Maeda Tadashi (lahir di Kagoshima, Jepang, 3 Maret 1898 – meninggal 13 Desember 1977 pada umur 79 tahun) adalah seorang perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang di Hindia Belanda pada masa Perang Pasifik. Tahun 1930-an Maeda menjadi atase di Den Haag dan Berlin, di sanalah ia berhubungan dengan banyak pelajar dari Indonesia diantaranya Nazir Pamuntjak, Achmad Subardjo, Hatta, dan AA Maramis. Maeda merupakan orang yang diutus untuk mempelajari pergerakan Indonesia selama 10 tahun.
Peperangan Asia Timur Raya kemudian terjadi, yang disusul dengan penyerangan Jepang terhadap pemerintah Hindia Belanda di Indonesia hingga muncul peristiwa Kalijati 8 Maret 1942; Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Maeda kemudian mendapat tugas sebagai Kepala Penghubung Kaigun (Angkatan Laut Jepang) yang berpusat di Makassar dengan Tentara Angkatan Darat di Jakarta. Dalam tugasnya di Indonesia, Maeda mempekerjakan Subardjo. Secara umum, Maeda dan Kaigun lebih humanis daripada Angkatan Darat Jepang.
Setelah Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom, tepatnya tanggal 14 Agustus 1945, Angkatan Perang Jepang wajib untuk tunduk kepada segala perintah komandan Angkatan Perang Sekutu khususnya mempertahankan status quo. Status quo artinya tidak boleh merubah keadaan sedikit pun di wilyah Indonesia, tidak boleh bertindak secara administratif dan politik. Tugas utama balatentara Jepang hanya menjaga keamanan dan ketertiban.
Kekalahan Jepang pada akhirnya diketahui oleh para pejuang kita. Maeda pun membenarkan berita tersebut dan menjamin rapat PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada tanggal 16 Agustus 1945 dilangsungkan. Singkatnya, setelah drama “penculikan” Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok, rumah Maeda di Jl. Teji Meijidori No. 1 (kini Jl. Imam Bonjol, Jakarta Pusat) menjadi tempat disusunnya naskah Proklamasi yang rampung pada tanggal 17 Agustus 1945 sekitar pukul 3 pagi. Pukul 10 paginya, naskah tersebut dibacakan beserta penjagaan dari beberapa bawahan Maeda.
Atas dukungannya terhadap kemerdekaan Republik Indonesia, Maeda mendapat Bintang Jasa Nararya di Upacara Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1973 dan sempat bertemu dengan Bung Hatta.





PERJUANGAN CHAERUL SALEH DALAM MEMPERJUANGKAN KEMERDEKAAN

Chaerul Saleh gelar Datuk Paduko Rajo (lahir di Sawahlunto, Sumatera Barat, 13 September 1916 – meninggal di Jakarta, 8 Februari 1967 pada umur 50 tahun)[1] adalah seorang pejuang dan tokoh politik Indonesia yang pernah menjabat sebagai wakil perdana menteri, menteri, dan ketua MPRS antara tahun 1957 sampai 1966. Ia juga menelurkan ide negara kepulauan dengan batas teritorial 12 mil laut yang di­sahkan pada 13 Desember 1957. Atas jasa-jasanya Chaerul dianugerahi pangkat Jenderal TNI Kehormatan. PERTENGAHAN tahun 1965, dalam salah satu sidang kabinet Chairul Saleh bertikai dengan DN Aidit. Waktu itu Chairul adalah Wakil Perdana Menteri III/Ketua MPRS, sedangkan Aidit Ketua PKI (Partai Komunis Indonesia) dan juga Menteri/Wakil Ketua MPRS. Pertikaian meletus karena dalam sidang, Chairul menyodorkan dokumen yang antara lain menyebutkan, pimpinan PKI sedang merencanakan perebutan kekuasaan untuk menggulingkan Presiden Soekarno.
Tentu saja, Aidit membantah tuduhan tersebut. Dengan suara garang dia menolak. Kedua menteri ini, yang berteman sejak masa muda, nyaris baku hantam. “Saking geramnya, Chairul hampir saja mendaratkan tinjunya ke muka Aidit. Para pejabat tinggi yang hadir menyaksikan kejadian ini mencoba melerainya. Kedua menteri tersebut masih tetap ngotot. Dengan wajah geram dan urat leher menegang, Chairul memegang bibir meja dan mau mengangkatnya. Dengan cepat Presiden Soekarno langsung mengetukkan palu yang terdengar sangat keras. Hening sejenak. Dengan ini sidang saya tutup. Semua yang dibicarakan di sini, tak boleh (terdengar) keluar, kata Bung Karno.”
Insiden di atas berlangsung di Istana Bogor. Sebagai kajian kilas balik, peristiwa itu tampil sangat menarik. Pertikaian antara Chairul dan Aidit mengenai rencana pemberontakan PKI sudah muncul di tengah sidang kabinet, yang saat itu dipimpin langsung oleh Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/Pemimpin Besar Revolusi
Babakan ini ikut disebutkan dalam buku Chairul Saleh Tokoh Kontroversial karya sejarawan lulusan UGM Yogyakarta Dra Irna H.N. Hadi Soewito. Buku setebal 398 halaman dengan kulit berwarna merah darah yang mungkin sekali juga bakal segera jadi kontroversial ini diluncurkan dengan bersemangat, disaksikan hadirin yang sebagian besar lanjut usia, di bekas Gedung Stovia, Jakarta, hari Sabtu (1/7/1995)
Hampir delapan tahun lalu naskahnya telah selesai dikerjakan. Tetapi, berbagai penerbit dengan segala macam alasan, menolak menerbitkannya. “Kemudian, baru datang seorang teman lama yang sedia mengulurkan tangan,…sekarang puas sudah hati ini,” kata Irna dengan gembira, meskipun majalah Sarinah tempatnya bekerja, justru sedang diselimuti awan kelabu.
Apa yang terjadi dalam kehidupan Chairul Saleh bagaikan pusingan roda nasib, mengalir naik turun tanpa henti. Bahwa dia justru mengakhiri perjalanannya setelah mendadak diketemukan meninggal dunia di rumah tahanan militer Jakarta tanggal 8 Februari 1967, ikut membuktikan mengenai misteri yang menyelimuti banyak segi kehidupannya.
Sangat disayangkan, kematian tersebut menyeret segala kabut tentang dirinya ikut terkubur di Karet, Jakarta. Berdampingan dengan kuburan Johanna Siti Menara Saidah, istrinya yang setia mendampingi sejak tahun 1940, meskipun mereka tidak dikarunai keturunan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar