MAKALAH KENAKALAN REMAJA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kenakalan remaja bukanlah merupakan suatu masalah yang baru
muncul kepermukaan, tetapi masalah ini sudah ada sejak berabad-abad yang lampau
dan menjadi persoalan yang aktual hampir di semua negara-negara di dunia, termasuk
di Indonesia, dan masalah ini bukan hanya terjadi di wilayah perkotaan bahkan
sekarang sampai ke wilayah pedesaan.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Romli Atmasasmita ( 1983 :23 ) bahwa : “Kenakalan adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh seorang anak yang dianggap bertentangan dengan ketentuan-ketentuan hukum yang bcrlaku di suatu negara yang oleh masyarakat itu sendiri dirasakan serta ditafsirkan sebagai perbuatan tercela”.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Romli Atmasasmita ( 1983 :23 ) bahwa : “Kenakalan adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh seorang anak yang dianggap bertentangan dengan ketentuan-ketentuan hukum yang bcrlaku di suatu negara yang oleh masyarakat itu sendiri dirasakan serta ditafsirkan sebagai perbuatan tercela”.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kenakalan
merupakan suatu pengertian yang memuat segi-segi juridis maupun segi-segi
sosiologis. Selanjutnya pengertian remaja dikemukakan oleh Zakiah Daradjat
(1974:35) adalah:“Remaja adalah usia transisi. Seseorang individu telah
meninggalkan usia kanak-kanak yang lemah dan penuh ketergantungan, akan tetapi
belum mampu ke usia yang kuat dan penuh tanggung jawab, baik terhadap dirinya
maupun terhadap masyarakat. Banyaknya masa transisi ini tergantung kepada
keadaan dan tingkat sosial masyarakat dimana dia hidup. Semakin maju masyarakat
semakin panjang usia remaja karena ia harus mempersiapkan diri untuk
menyesuaikan dalam masyarakat yang banyak syarat dan tuntutannya”.
Berdasarkan pada kenyataan ini, sangat dituntut peranan
keluarga ataupun orang tua untuk mengarahkan anak-anak remaja, sehingga tidak
terjerumus kenakalan remaja. Disamping itu masyarakat juga harus turut
berpartisipasi untuk mencegah timbulnya kenakalan remaja karena adaiah
kewajiban setiap orang untuk ikut berpikir dan bertindak mengarahkan kehidupan
para remaja untuk menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan ncgara. Dalam hal
ini turut pula peranan pihak kepolosian sebagai salah satu instansi yang paling
berwenang dalam mengatasi dan mengantisipasi kenakalan remaja.
Pada masa sekarang di Amerika Latin,
dan Eropa Timur, tingkat infeksinya HIV di kalangan pengguna jarum suntik di
atas empat puluh persen. Di Estonia, angka itu lebih dari
tujuh puluh dua persen. Dalam makalah ini, saya ingin memperlihatkan bagaimana
keadaan pergaulan remaja saat ini yang berada dalam keadaan kritis terhadap
moralnya. Dan, saya juga ingin memberikan manfaat dan cara-cara penanggulangan
bahaya dari pergaulan remaja, dengan melakukan berbagai macam hal dan tindakan
yang berguna bagi keluarga, bangsa, dan agama.
Remaja pada belakangan ini sangat
memprihatikan dalam keadaan moralnya. Banyak kasus-kasus yang ditangani oleh
pihak kepolisian karena kelakuan remaja yang berada diluar garis moralitas
remaja. Sehingga moral remaja saat ini berada di garis keparahan. Maka, Makalah
ini mengangkat judul “ Kenakalan Remaja terhadap Moral Bangsa”
1.2 Rumusan Masalah
Adapun
rumusan masalah dalam makalah ini sebagai berikut:
1.
Apakah
yang dimaksud dengan moral?
2.
Apa
pengertian kenakalan remaja?
3.
Apa saja
teori tentang perilaku kenakalan remaja?
4.
Apa saja
jenis-jenis kenakalan remaja?
5.
Apa saja
ciri – ciri kenakalan remaja?
6.
Apa
penyebab kenakalan remaja?
7.
Apa saja
dampak kenakalan remaja dan contoh kenakalan remaja?
1.3 Tujuan
Penulisan
Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini sebagai beriku:
1.
Mengetahui
Pengertian Moral
2.
Mengetahui
Pengertian Kenakalan Remaja
3.
Mengerti
tentang Teori Perilaku Kenakalan Remaja
4.
Mengetahui
Jenis-jenis Kenakalan Remaja
5.
Mengetahui
Ciri – Ciri Kenakalan Remaja
6.
Mengetahui
Penyebab Kenakalan Remaja
7.
Mengetahui
Dampak Kenakalan Remaja dan Contohnya
1.4 Manfaat Penulisan
makalah ini di buat untuk mengetahui
akan permasalahan remaja saat ini dengan memberikan beberapa manfaat kepada:
1. Orang Tua
·
Memberikan informasi kepada orang tua
bahwa penelitian ini dapat digunakan untuk menyikapi, menanggulangi, dan
menyadarkan kepada anak.
·
Memberikan semangat baru dalam
pendidikan pergaulan remaja, termasuk di rumah dan di sekolah.
2. Masyarakat
·
Memberikan pengetahuan yang lebih baru
dan lebih luas tentang remaja.
·
Menghindari tindakan-tindakan yang
menyeleweng dari pihak-pihak tertentu kepada remaja.
·
Mengetahui cara pencegahan dan
penyelesaian akibat kenakalan yang dilakukan remaja saat ini.
BAB II
ISI
2.1 Pengertian Moral
Kata
moral merupakan kata yang berasal dari bahasa latin ‘mores’, mores sendiri
berarti adat kebiasaan atau suatu cara hidup. (Gunarsa, 1986) Moral pada
dasarnya adalah suatu rangkaian nilai dari berbagai macam perilaku yang wajib
dipatuhi. (Shaffer, 1979) Moral dapat diartikan sebagai kaidah norma dan pranata
yang mampu mengatur perilaku individu dalam menjalani suatu hubungan dengan
masyarakat. Sehingga moral adalah hal mutlak atau suatu perilaku yang harus
dimiliki oleh manusia.
Moral secara ekplisit merupakan berbagai hal yang memiliki hubungan
dengan proses sosialisasi individu tanpa adanya moral manusia tidak akan bisa
melakukan proses sosialisasi. Moral pada zaman sekarang memiliki nilai implisit
karena banyak orang yang memiliki moral atau sikap amoral itu dari sudut
pandang yang sempit. Menurut Immanuel Kant, moralitas adalah hal
kenyakinan serta sikap batin dan bukan hanya hal sekedar penyesuaian dengan
beberapa aturan dari luar, entah itu aturan berupa hukum negara, hukum agama
atau hukum adat-istiadat. Selanjutnya dikatakan jika, kriteria mutu moral dari
seseorang adalah hal kesetiaannya terhadap hatinya sendiri.
Dalam kamus filsafat terdapat beberapa pengertian dan arti moral yang diantaranya adalah sebagai
berikut:
- Memiliki kemampuan untuk diarahkan (dipengaruhi) oleh keinsyafan benar atau salah, kemampuan untuk mengarahkan (mempengaruhi) orang lain sesuai dengan kaidah-kaidah perilaku nilai benar dan salah.
- Menyangkut cara seseorang bertingkah laku dalam berhubungan dengan orang lain.
- Menyangkut kegiatan-kegiatan yang dipandang baik atau buruk, benar atau salah, tepat atau tidak tepat.
- Sesuai dengan kaidah-kaidah yang diterima, menyangkut apa yang dianggap benar, baik, adil dan pantas.
2.2 Pengertian Kenakalan Remaja
Juvenile delinquency ( kenakalan remaja ) ialah perilaku
jahat/dursila, atau kejahatan/kenakalan anak-anak muda merupakan
patologis[2] secara sosial pada anak-anak
dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka
itu mengembangkan bentuk tingkah laku yang menyimpang.
Menurut Paul Moedikdo,SH kenakalan Remaja adalah
:
- Semua perbuatan yang dari orang dewasa merupakan suatu kejahatan bagi anak-anak merupakan kenakalan jadi semua yang dilarang oleh hukum pidana[3], seperti mencuri, menganiaya dan sebagainya.
- Semua perbuatan penyelewengan dari norma kelompok tertentu untuk menimbulkan keonaran dalam masyarakat.
- Semua perbuatan yang menunjukkan kebutuhan perlindungan bagi sosial.
Menurut Resolusi PBB 40/33 tentang UN Standard Minimum Rules
for the Administration of Juvenile Justice ( Beijing Rules ) khusus dalam rules
2.2 kenakalan remaja adalah salah seorang anak atau orang muda ( remaja )
yang melakukan perbuatan yang ‘dapat dipidana’ menurut sistem hukum yang
berlaku dan diperlakukan secara berbeda dengan orang dewasa.
Remaja yang kebanyakan orang mengartikan bahwa masa
peralihan antara masa kanak-kanak menjadi dewasa. Dalam masa ini anak-anak
mengalami pertumbuhan dan perkembangan secara fisik dan psikis.Mereka bukanlah
anak-anak baik secara fisik, cara berpikir, ataupun cara bertindak. Tetapi
bukan pula dikatakan orang dewasa yang telah matang secara fisik maupun
psikisnya.
Kenakalan remaja sudah menjadi masalah di semua
negara. Setiap tahun tingkat kenakalan remaja ini menunjukan peningkatan,
sehingga mengakibatkan terjadinya problema sosial. Lingkungan sangat
berpengaruh besar dalam pembentukan jiwa remaja. Bagi remaja yang ternyata
salah memilih tempat atau kawan dalam bergaulnya. Maka yang akan terjadi
kemudian adalah berdampak negatif terhadap perkembangan pribadinya. Tapi, bila
dia memasuki lingkungan pergaulan yang sehat, seperti memasuki organisasi
pemuda yang resmi diakui oleh pemerintah, sudah tentu berdampak positif bagi perkembangan
kepribadiannya.
BATASAN
TENTANG REMAJA
Perkembangan
usia anak hingga dewasa dapat diklasifikasikan menjadi lima yaitu :
a. Anak, seorang yang berusia di bawah
12 tahun
b. Remaja dini, seorang yang berusia 12
– 15 tahun
c. Remaja penuh, seorang yang berusia
15 – 17 tahun
d. Dewasa muda, seorang yang berusia
17-21 tahun
e. Dewasa, seorang berusia di atas 21
tahun.
Remaja
adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Para ahli sependapat bahwa
remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun.
2.3
Teori Perilaku Kenakalan Remaja
Berikut ini adalah beberapa teori tentang penyebab
kelakuan kenakalan remaja :
1.
Teori Differential Asociation
Teori yang dikemukakan oleh E. Sutherland ini pada dasarnya
melandaskan diri pada proses belajar. Kejahatan seperti juga perilaku pada
umumnya merupakan suatu yang dipelajari.
2.
Teori Anomie
Teori anomie yang diajukan Robert Merton merupakan teori
yang berorientasi pada kelas-kelas sosial. Istilah anomie sendiri sebetulnya
berasal dari seorang pakar sosiologi Perancis, Emile Durkeim, yang berarti
suatu keadaan tanpa norma. Konsep anomie ini kemudian oleh Merton
diformulasikan dalam rangka menjelaskan keterkaitan antara kelas-kelas sosial
dengan kecenderungan pengadaptasiannya dalam sikap dan perilaku kelompok.
Merton berusaha menunjukkan bahwa berbagai struktur sosial yang mungkin
terdapat di masyarakat dalam realitasnya telah mendorong orang-orang dengan
kualitas tertentu cenderung berperilaku menyimpang ketimbang mematuhi
norma-norma kemasyarakatan.
3. Teori Sub-budaya Delinkuen
Teori ini dilontarkan oleh Albert K Cohen, yang menjelaskan
terjadinya peningkatan perilaku delinkuen[4] di daerah
kumuh. Fokus perhatiannya terarah pada satu pemahaman bahwa perilaku delinkuen
di kalangan usia muda, kelas bawah merupakan cerminan ketidakpuasan mereka
terhadap norma-norma dan nilai kelompok kelas menengah yang mendominasi.
4.
Teori Netralisasi
Pada dasarnya teori netralisasi ini beranggapan bahwa
aktivitas manusia selalu dikendalikan oleh pikirannya. Menurut teori ini
orang-orang berperilaku jahat atau menyimpang disebabkan adanya kecenderungan
di kalangan mereka untuk merasionalkan norma-norma dan nilai-nilai ( yang
seharusnya berfungsi sebagai pencegah perilaku jahat ) menurut persepsi dan
kepentingan mereka sendiri.
5.
Teori Kontrol
Teori kontrol atau sering juga disebut teori kontrol sosial
berangkat dari asumsi atau anggapan bahwa individu di masyarakat mempunyai
kecenderungan yang sama kemungkinannya, menjadi ‘baik’ atau ‘jahat’. Baik
jahatnya seseorang sepenuhnya tergantung pada masyarakatnya membuatnya
demikian, dan menjadi jahat apabila masyarakatnya membuatnya demikian.
2.4 Jenis-jenis Kenakalan Remaja
Seperti
yang sudah diuraikan diatas, maka kenakalan remaja yang dimaksud di sini adalah
perilaku yang menyimpang dari atau melanggar hukum. Jensen (1985), membagi
kenakalan remaja menjadi 4 jenis yaitu:
1) Kenakalan yang menimbulkan korban
fisik pada orang lain; perkelahian, perkosaan, perampokan, pembunuhan dan lain-
lain.
2) Kenakalan yang menimbulkan korban
materi; pemerasan, pencurian.
3) Kenakalan sosial yang tidak
menimbulkan korban di pihak orang lain;
pelacuran, penyalahgunaan obat-obatan terlarang,hubungan seks pranikah.
pelacuran, penyalahgunaan obat-obatan terlarang,hubungan seks pranikah.
4) Kenakalan yang melawan status,
misalnya mengingkari status anak sebagai pelajar
dengan membolos, melanggar disiplin
sekolah. Mengingkari status sebagai anak orang tua dengan cara minggat
dari rumah atau membantah perintah mereka dan sebagainya. Pada usia
mereka,perilaku-perilaku mereka memang belum melanggar hukum dalam arti yang
sesungguhnya karena yang dilanggar adalah status-status dalam lingkungan primer
(keluarga) dan sekunder (sekolah) yang memang tidak diatur oleh hukum secara
terinci. Akan tetapi kalau kelak remaja ini dewasa, pelanggaran status ini
dapat dilakukannya terhadap atasannya di kantor atau petugas hukum di
masyarakat. Karena itulah pelanggaran status ini oleh Jensen digolongkan juga
sebagai kenakalan dan bukan sekedar perilaku menyimpang.
Menurut tempat terjadinya kenakalan tersebut, kenakalan
remaja dibagi menjadi:
- Kenakalan dalam keluarga: Remaja yang labil umumnya rawan sekali melakukan hal-hal yang negatif, di sinilah peran orang tua sangat berpengaruh terhadap tindakan-tindakan yang akan seorang anak lakukan. Orang tua harus mengontrol dan mengawasi putra-putri mereka dengan melarang hal-hal tertentu.Namun, bagi sebagian anak remaja, larangan-larangan tersebut malah dianggap hal yang buruk dan mengekang mereka. Akibatnya, mereka akan memberontak dengan banyak cara, tidak menghormati orang tua, berbicara kasar pada orang tua, atau mengabaikan perkataan orang tua adalah contoh kenakalan remaja dalam keluarga.
- Kenakalan dalam pergaulan: Dampak kenakalan remaja yang paling nampak adalah dalam hal pergaulan. Sampai saat ini, masih banyak para remaja yang terjebak dalam pergaulan yang tidak baik. Mulai dari pemakaian obat-obatan terlarang sampai seks bebas. Menyeret remaja pada sebuah pergaulan buruk memang relatif mudah, dimana remaja sangat mudah dipengaruhi oleh hal-hal negatif yang menawarkan kenyamanan semu. Akibat pergaulan bebas inilah remaja, bahkan keluarganya, harus menanggung beban yang cukup berat.
- Kenakalan dalam pendidikan: Kenakalan dalam bidang pendidikan memang sudah umum terjadi, namun tidak semua remaja yang nakal dalam hal pendidikan akan menjadi sosok yang berkepribadian buruk, karena mereka masih cukup mudah untuk diarahkan pada hal yang benar. Kenakalan dalam hal pendidikan misalnya, membolos sekolah, tidak mau mendengarkan guru, tidur dalam kelas, dll.
2.5 Ciri –
Ciri Kenakalan Remaja
Ciri-ciri
kenakalan remaja mulai tampak pada remaja itu sendiri dengan mereka melakukan
perbuatan-perbuatan yang tidak baik, antara lain :
a)
Ngebut, yaitu mengendarai kendaraan dengan kecepatan yang
melampaui kecepatan maksimum yang di tetapkan, sehingga dapat mengganggu bahkan
membahayakan pemakai jalan yang lain.
b)
Peredaran pornografi di kalangan pelajar, baik dalam bentuk
gambar-gambar cabul atau tidak senonoh, majalah dan cerita porno yang dapat
merusak moral anak, sampai peredaran obat-obat perangsang nafsu seksual,
kontrasepsi penyalahgunaan barang-barang elektronik (misal internet dan
handphone) dan sebagainya.
c)
Anak-anak yang suka pengerusakan-pengerusakan terhadap
barang-barang atau milik orang lain seperti mencuri, membuat corat-coret yang
mengganggu keindahan lingkungan, mengadakan sabotase[5]
dan sebagainya.
d)
Membentuk kelompok atau gang dengan ciri-ciri dan tindakan
yang menyeramkan, seperti kelompok bertato, kelompok berpakaian acak-acakan,
blackmetal. Yang diikuti oleh tindakan yang tercela yang mengarah pada
perbuatan anarkis.
e)
Berpakaian dengan mode yang tidak sesuai dengan keadaan
lingkungan, misal: memakai rok mini, youcansee, memakai pakaian yang serba
ketat sehingga terlihat lekuk tubuhnya, dan di pandang kurang sopan di mata
lingkunganya.
f)
Mengganggu/mengejek orang-orang yang melintas di depanya,
seperti jika menoleh atau marah sedikit saja di anggapnya membuat gara-gara
untuk dikerjain.
Sedangkan
menurut PPDGJ III pedoman diagnostik untuk gangguan tingkah laku ( F-91)
1. Gangguan tingkah laku berciri khas
dengan adanya pola tingkah laku dissosial, agresif atau menentang yang berulang
dan menetap.
2. Penilaian tentang adanya gangguan
tingkah laku perlu memperhitungkan tingkat perkembangan anak. Tempertantrum
merupakan gejala normal pada perkembangan anak berusia 3 tahun, dan adanya
gejala ini bukan merupakan dasar bagi diagnosis[6] ini. Begitu pula pelanggaran terhadap hak
orang lain (seperti tindak pidana dengan kekerasan) tidak termasuk kemampuan
anak berusia 7 tahun dan dengan demikian bukan merupakan kriteria diagnostik
bagi anak kelompok usia tersebut.
3. Diagnosis ini tidak dianjurkan
kecuali tingkah laku seperti yang diuraikan di atas Adapula Gejala-gejala yang dapat dilihat pada anak yang mengalami
kenakalan remaja adalah :
A.
Anak tidak disukai teman-temannyasehingga bersikap
menyendiri.
B.
Anak sering menghindar dari tanggungjawab mereka di rumah
dan di sekolah.
C.
Anak sering mengeluh kalau mereka memiliki permasalahan yang
mereka sendiri tidak bisa selesaikan.\
D.
Anak mengalami phobia atau gelisah yang berbeda dengan
orang-orang normal.
E.
Anak jadi suka berbohong.
F.
Anak suka menyakiti teman-temannya.
G.
Anak tidak sanggup memusatkan perhatian.
H.
Anak suka membolos dari sekolah dan lari dari rumah
I.
Anak sering meluapkan tempertantrum[7]
yang hebat dan tidak biasa
J.
Anak berperilaku provokatif yang menyimpang
K.
Anak bersikap menentang yang berat dan menetap
2.6 Penyebab Kenakalan Remaja
Beberapa penyebab dari kenakalan remaja meliputi
gangguan-gangguan perilaku. Penyebab gangguan perilaku mungkin berasal dari
anak sendiri atau mungkin dari lingkungannya, akan tetapi akhirnya kedua faktor
ini saling mempengaruhi.
·
Anak sendiri
A. Penyebab yang diturunkan. Diketahui
bahwa ciri dan bentuk anggota tubuh orang tua dapat diturunkan kepada anaknya.
Demikian juga beberapa sifat kepribadian yang umum dapat diturunkan dari
orangtua kepada anaknya.
B. Penyebab yang diperoleh pada waktu
anak berkembang. Telah lama diketahui bahwa gangguan otak seperti trauma
kepala, ensefalitis[8], neoplasma dan lain-lain dapat
mengakibatkan perubahan kepribadian. Anak dengan sindroma[9] otak organik ini mungkin menunjukkan
hiperkinesia[10], kegelisahan, kecenderungan untuk
merusak dan kekejaman.
·
Lingkungan
Meskipun faktor-faktor yang diturunkan itu mempengaruhi
perilaku anak, akan tetapi faktor lingkungan sering lebih menentukan. Dan
karena lingkungan itu dapat diubah maka dengan demikian gangguan perilaku itu
dapat dipengaruhi atau dapat dicegah. Beberapa penyebab gangguan perilaku yang
berasal dari lingkungan ialah:
1. Orangtua
Gangguan yang disebabkan oleh orang tua misalnya sikap orang
tua yang terlalu overprotective[11] terhadap remaja, kurangnya
perhatian dan kasih sayang yang ditujukan pada remaja tersebut, sikap pilih
kasih antara remaja tersebut dengan saudara-saudara lainnya, kurangnya
pengawasan dari orang tua, atau bahkan karena keadaan status keluarganya yang
brokenhome[12].
2. Saudara-saudara
Gangguan ini disebabkan karena pengaruh dari sikap
saudara-saudaranya yang melenceng dari norma yang ada, sehingga remaja tersebut
mencontoh perilaku saudaranya.
3. Hubungan di sekolahnya
Dalam kasus ini pengaruh teman sangat besar terhadap
pengaruh moral remaja. Biasanya remaja saat ini berkelompok dan melakukan
sesuatu yang sama dengan teman sekelompoknya. Sedangkan banyak remaja itu
sendiri yang tidak tahu apa perilaku itu benar atau tidak.
2.7
Dampak Kenakalan Remaja dan Contoh Kenakalan Remaja
Saat ini, hampir tidak terhitung berapa jumlah remaja yang
melakukan hal-hal negative (kenakalan remaja). Bahkan, dari dampak
kenakalan remaja tersebut, banyak sekali kerugian yang terjadi, baik bagi
remaja itu sendiri maupun orang-orang di sekitar mereka. Berikut beberapa
dampak negative yang akan diperoleh bila seorang remaja melakukan suatu
tindakan menyimpang (kenakalan remaja).
·
Kebiasaan melakukan hal yang buruk seperti
kenakalan-kenakalan yang telah disebutkan di atas akan membentuk kepribadian
atau akhlak yang buruk bagi pelakunya yang dikhawatirkan kebiasaan tersebut
akan sangat sulit untuk diubah kedepannya.
·
Remaja yang melakukan tindakan menyimpang akan dihindari
bahkan dikucilkan oleh banyak orang, dan tidak menuntut kemungkinan dia
akan dianggap sebagai pengganggu serta bisa saja kehadirannya tidak diharapkan
lagi bagi orang-orang disekitarnya.
·
Akibat adanya tindakan dikucilkan dari oarang-orang
disekitarnya, remaja tersebut bisa mengalami gangguan jiwa. Yang dimaksud
dengan gangguan jiwa disini bukanlah gila, tapi ia akan merasa terasing dari
kehidupan bersosialisasi yang ada disekitarnya, yang akhirnya ia akan
merasa sangat sedih, bahkan membenci orang-orang disekitarnya.
·
Masa depannya suram. Hal ini terjadi karena, kebanyakan
dari mereka yang sudah terlanjur terjerumus ke dalam pergaulan bebas, hidup
mereka perlahan akan kacau yang akhirnya dapat menyebabkan kehancuran bagi masa
depan mereka dan tidak sempat memperbaikinya.
·
Kriminalitas bisa menjadi salah satu akibat dari kenakalan remaja. Bukan
tidak mungkin bagi mereka akan memiliki keberanian dalam melakukan tindakan
yang lebih berbahaya seperti halnya tindakan kriminal yang merugikan
orang-orang disekitanya, misalnya mencuri demi mendapatkan uang atau
barang-barang berharga lainnya
Ø Contoh Kenakalan Remaja
A. Tawuran adalah contoh kenakalan
remaja yang marak terjadi saat ini.
B. Pesta miras sekarang bukan hanya ada
di kalangan dewasa namun juga dibawah umur
C. Balapan liar kini sudah menjadi
tradisi
D. Merokok bukan hanya marak di
kalangan pria, namun juga wanita
E. Narkoba sangat Mudah ditemukan
F. Prostitusi kian marak di Indonosia
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari uraian yang telah dikemukakan
terdahulu dapat dinyatakan bahwa lingkungan pergaulan para remaja dapat
membentuk kepribadian dan kelakuan remaja dengan sangat cepat. Hal itu ditambah
lagi dengan adanya perkembangan teknologi pengiriman informasi yang makin
pesat, seperti internet, televisi, atau handphone.
Apabila pergaulan yang dilakukan remaja
bersifat baik, maka dia akan berkelakuan baik, karena lazim di dalam
pergaulannya. Dan, apabila pergaulan yang dilakukan oleh remaja bersifat jelek,
maka dia akan terpengaruh oleh pergaulan itu, karena wajar dilakukan di
pergaulannya. Akhirnya, dia akan melakukan perilaku yang menyimpang.
Semua hal itu harus kita lawan dan
basmi dari pikiran dan kehidupan kita. Peran dari orang tua, teman sejati,
guru, dan masyarakat sangatlah dibutuhkan dalam penanggulangan masalah ini.
Peran ini harus dijadikan pedoman hidup, rambu-rambu, larangan, dan contoh
dengan baik dan berguna.
Masalah pergaulan remaja juga dapat
dijadikan sarana titik kebangkitan para remaja dengan cara melakukan kegiatan
yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain, seperti mewakili sekolah
masing-masing dalam perlombaan, melakukan penanaman hijau, dan lain sebagainya.
Dengan kegiatan tersebut, maka dapat membantu remaja dalam menyiapkan masa
depannya
Maka, sebagai kesimpulan khusus yang diperoleh dari
analisis data ialah :
1. Lingkungan
pergaulan dapat mengubah kepribadian para remaja.
2. Remaja dengan
lingkungan pergaulan yang baik lebih baik kepribadiannya daripada anak
dengan lingkungan pergaulan yang jelek.
3. Peran orang
tua, teman, guru, dan masyarakat sangatlah dibutuhkan bagi remaja dalam bentuk
contoh dan nasihat untuk menghadapi masalah pergaulan remaja.
4. Timbulnya rasa
peduli terhadap lingkungan dan pergaulan remaja, setelah melakukan perbuatan
yang baik dan berguna.
3.2 Saran
Disarankan kepada para pembaca remaja,
agar tidak mudah terjebak dan terpengaruh terhadap pergaulan remaja zaman
sekarang, dengan cara membekali diri dengan agama yang kuat dan wawasan yang
luas, disertai dengan berbagai kegiatan yang berguna bagi diri sendiri dan bagi
orang lain.
Sedangkan kepada pembaca selain remaja,
saya ingin mengusulkan untuk selalu memberi contoh dan nasihat kepada para
remaja, dan melaksanakan program-program latihan dan kegiatan untuk remaja,
seperti karang taruna dan bakti sosial, agar menumbuhkan rasa saling menyayangi
antar sesama umat manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi, 1996, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta RhinekaCipta
Atmasasmita, Romli, 1993, Problem Kenakalan Anak-anak Remaja (Yuridis Sosk Kriminologi), Bandung, Armico
Darajat, Zakiah, 1974 Problema Remaja diIndonesia, Jakarta, Bulan Bintang.
Sembiring Mberguh, 2000, Kriminologi dan Remaja, Medan, UNIMED
Sudjana 1996, Metodologi Statistik, Bandung, Angkasa
Subekti R. Kitab Undang-undang Hukum Perdata
Surahman Winarno, 1985 Pengantar Penelitian Ilmiah, Bandung, Tarsito
Willis S. Sofian, 1992 Problema Remaja, Bandung, Angkasa
http://psikonseling.blogspot.com/2010/02/pengertian-kenakalan-remaja.html
http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/index/assoc/HASHa7c5.dir/doc.pdf
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=12915
http://subandowo.blogspot.com/2008/08/kenakalan-remaja.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar